Himoov Adventure

Sebuah blog yang berisi tentang bagaimana merancang sebuah perjalanan yang sederhana dengan biaya yang murah. Juga tempat berbagi pengalaman dan informasi tentang perjalanan, petualangan, lingkungan kepecintaalaman, dan peralatan.

Mandalawangi Pangrango

... "hidup adalah soal keberanian menghadapi yang tanda tanya, tanpa kita mengerti, tanpa kita bisa menawar".... Soe Hok Gie

Pantai Siung

Terletak di Dusun Duwet, Desa Purwodadi, Kecamatan Tepus, Kabupaten Gunung Kidul. Pantai ini dikelilingi oleh tebing yang berbaris rapi dan menjadi lokasi favorit bagi para pemanjat tebing.

Gunung Merapi (2968 mdpl)

Salah satu gunung berapi di bagian tengah Pulau Jawa dan merupakan salah satu gunung api teraktif di Indonesia. Sejak tahun 1548, gunung ini sudah meletus sebanyak 68 kali.

Men's Vortex Triclimate® Jacket

Extremely versatile and functional, this three-in-one, fully-dialed jacket includes a waterproof shell and insulated liner that allows athletes to adjust to variable temperatures.

Tampilkan postingan dengan label Nature. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nature. Tampilkan semua postingan

Rabu, 31 Juli 2013

Mandalawangi, Gede-Pangrango

Gunung Gede Pangrango. Ya, salah satu gunung yang paling sering didaki oleh para penikmat alam Negeri Merah Putih ini. Apa alasannya? Tentu berbeda dari masing-masing orang, namun bisa saya pastikan, kurang lebih adalah pengen ke Mandalawangi. Tempat apa itu? Nah, sebelum saya cerita nih tentang Mandalawangi, wajib tau dulu tentang gunung Gede Pangrango. Cekidot!


Sekilas Tentang Gede-Pangrango

Sebut saja GP, agar kita lebih akrab dengannya. Gunung Gede (2958 mdpl)  dan Pangrango (3019 mdpl) terletak di tiga kabupaten di Jawa Barat, yakni Bogor, Cianjur, dan Sukabumi. Kamu tahu? GP ini merupakan salah satu Taman Nasional di pulau Jawa. Benar saja, karena keeksotisan alamnya sangat mampu menjaga mata kita untuk tidak berkedip.
Di kawasan TNGGP, pengunjung dapat melihat dan menikmati air terjun, telaga kecil, sungai yang mengalir deras, dan kekayaan keanekaragaman hayati di hutan pegunungan rendah atau kesunyian dari hutan pegunungan yang rapuh. Bagi siapa yang ingin mendaki ke puncak, akan disuguhi pemandangan menakjubkan dari kawah-kawah semi aktif dengan keperkasaan dinding-dinding kawah, atau menikmati kelembutan dari rerumputan pegunungan. Pokoknya sangar-sangar deh pemandangannya, dan yang paling paling pualing diincar ketika seseorang berniat untuk berkunjung ke tempat ini, tidak lain dan tidak bukan adalah alun-alun Surya Kencana (di gunung Gede) dan Mandalawangi (di gunung Pangrango). Yup, kedua tempat ini merupakan hamparan luas yang dipenuhi oleh tanaman keren nan menawan, yaitu Edelweis.
Inilah yang menyebabkan Taman Nasional Gunung GP ini menjadi sangat diminati, sampai-sampai pendakiannya pun di beri kuota, yaitu 600 orang per malamnya dengan rincian 300 untuk jalur Cibodas, 200 untuk jalur Gunung Putri, dan 100 untuk jalur Selabintana. Kebijakan ini tentunya dibuat demi menjaga kelestarian alam kawasan tersebut.


How To Go There?
Oke, sebelum kita benar-benar siap berangkat untuk pendakian, jangan lupa bahwa untuk pendakian di kawasan TNGGP ini haruslah melalui booking terlebih dahulu, minimal h-30 sebelum pendakian, dan maksimal h-3 sebelum pendakian. Carane booking pie mas?

Untuk tata caranya adalah sebagai berikut:
1. Sebelum melakukan booking online calon pendaki dapat melihat langsung jumlah kuota yang masih kosong untuk pendakian ke Taman Nasional Gunung Gede Pangrango pada kolom Data di http://booking.gedepangrango.org/
2. Apabila tanggal pendakian yang diinginkan masih tersedia, calon pendaki mengisi form booking online yang dapat di download di www.gedepangrango.org (pada kolom unduh) atau klik disini
3. Calon pendaki melakukan transfer uang panjar minimal Rp. 50.000,- atau 30% dari nilai booking ke Bank BNI cabang Cipanas dengan nomor rekening 0166515251 atas nama Tati Sumiati (Bendahara PNBP Balai Besar TNGGP)
4. Uang yang sudah masuk tidak dapat ditarik kembali apabila booking dibatalkan oleh calaon pendaki
5. Calon pendaki mengirimkan email ke booking@gedepangrango.org dengan melampirkan :
    a. Form booking online yang telah terisi lengkap dan benar
    b. Kartu identitas yang masih berlaku, minimal ketua rombongan, untuk anggota dapat menyusul pada saat pengambilan SIMAKSI di Kantor Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango
    c. Bukti transfer ke nomor rekening tersebut diatas
6. Email dari calon pendaki akan divalidasi apakah booking diterima atau ditolak oleh petugas booking online 1 x 24 jam dengan email balasan ke alamat email calon pendaki
7. Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango berhak menolak booking online dari calon pendakiapabila persyaratan seperti diatas tidak lengkap
8. Bersedia untuk mentaati seluruh peraturan (kewajiban, larangan dan lainnya) tentang pendakian yang  ditetapkan oleh Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango
9. Tentang pembayaran pendampingan dilakukan secara langsung pada saat pengambilan SIMAKSI di Kantor Balai Besar Taman.

Nah, udah siap? Baiklah, berikutnya jalur pendakiannya mana aja?
Untuk pendakian GP ini, ada 3 jalur pendakian yang bisa kita pilih, yaitu jalur Cibodas, Gunung Putri, dan Selabintana. Dan yang paling favorit yaitu jalur Cibodas.
Untuk menuju ke lokasi, bisa menggunakan kendaraan pribadi maupun kendaraan umum seperti bus. Jika kita naik bus, jurusan Bandung, nanti turun di pertigaan Cibodas, disambung dengan mobil angkutan kecil ke Kebun Raya Cibodas.Di sekitar Kebun Raya Cibodas terdapat tempat parkir yang luas, banyak terdapat pedagang makanan dan oleh-oleh di sepanjang jalan. Ada juga lokasi untuk berkemah di dekat kantor Taman Nasional. Lebatnya hutan tropis di lereng gunung Gede-Pangrango ini sudah terasa di Cibodas, namun suasana hutannya terpotong oleh padang golf yang sangat luas hingga ke arah puncak gunung pangrango.

Oiya, tadi ane janji mau cerita tentang Mandalawangi kan? Oke, berikut liputannya ~


Mandalawangi
Masih di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, dimana kamu bisa menemukan satu lagi padang Edelweis dengan panorama yang indah. Alun-alun Mandalawangi terletak di Gunung Pangrango, sekitar 2-2,5 jam dari Kandang Badak yang merupakan titik temu Puncak Gede dan Gunung Pangrango.
Karena terletak lebih tinggi dari puncak Gunung Gede, Edelweis di Alun-alun Mandalawangi lebih rimbun dan ukuran bunganya lebih besar. Walaupun luasnya tak sebanding dengan Alun-alun Surya Kencana.
Satu nilai lebih yang ditawarkan Alun-alun Mandalawangi adalah panoramanya yang indah. Jika cuaca sedang cerah, kamu bisa melihat kawah Gunung Gede yang berada di bawahnya. Tak hanya itu, kamu juga bisa menikmati rimbunnya Edelweis sambil memandang megahnya Gunung Salak.
Kamu tau Soe Hok Gie, kan? Yap, dia punya puisi yang sangat dalam tentang Mandalawangi ini. Penasaran?


Mandalawangi Pangrango
Soe Hok Gie

Senja ini, ketika matahari turun kedalam jurang-jurangmu
aku datang kembali
kedalam ribaanmu, dalam sepimu dan dalam dinginmu
walaupun setiap orang berbicara tentang manfaat dan guna
aku bicara padamu tentang cinta dan keindahan
dan aku terima kau dalam keberadaanmu
seperti kau terima daku

aku cinta padamu, Pangrango yang dingin dan sepi
sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang tiada
hutanmu adalah misteri segala
cintamu dan cintaku adalah kebisuan semesta

malam itu ketika dingin dan kebisuan menyelimuti Mandalawangi Kau datang kembali
Dan bicara padaku tentang kehampaan semua

“hidup adalah soal keberanian, menghadapi yang tanda tanya “tanpa kita mengerti, tanpa kita bisa menawar
‘terimalah dan hadapilah

dan antara ransel-ransel kosong dan api unggun yang membara
aku terima ini semua
melampaui batas-batas hutanmu, melampaui batas-batas jurangmu

aku cinta padamu Pangrango
karena aku cinta pada keberanian hidup

Sabtu, 11 Februari 2012

Energi Bersih Dari Mikro Hidro

Jakarta (30/01)-Perubahan iklim adalah salah satu tantangan yang paling signifikan yang akan dihadapi Indonesia di masa yang akan datang. Dengan populasi 240 juta jiwa, dan tingkat pertumbuhan sebesar 6,1% di tahun 2010, Indonesia akan ditanya apakah mungkin untuk tetap bertahan tanpa mengorbankan lingkungan. Perubahan iklim telah memperlihatkan kenaikan suhu di Indonesia sebesar 0.3 derajat.

Kondisi iklim bahkan akan menjadi tambah buruk jika penggunaan energi di Indonesia diteruskan. Negara ini hidup dalam paradigma penggunaan energi yang tidak berkelanjutan, menyebabkan degradasi lingkungan yang parah. Saat ini, 93% pasokan energi di Indonesia dihasilkan dari bahan bakar fosil seperti batubara, gas dan minyak. Bahan bakar fosil terbukti telah menyebabkan perubahan iklim karena melepaskan gas rumah kaca yang begitu besar. 

Dalam langkah positif ke depannya untuk masa depan yang lebih baik, Pemerintah Indonesia telah berjanji untuk meningkatkan penggunaan energi terbarukan dari 7% menjadi 15% dalam visi mereka sampai tahun 2025, Kebijakan Energi Nasional. Sementara itu, WWF, dalam penelitian dasarnya melanggar "Laporan Energi", menyajikan skenario yang provokatif, membuat perencanaan untuk masa depan dimana 100% energi di dunia dipasok dari sumber energi terbarukan di tahun 2050.

Dalam upaya mempercepat jalan ambisius terhadap tenaga bersih utnuk planet kita, mengembangkan penggunaan mikro hidro adalah salah satu solusi.

Sebagai sumber energi terbarukan, Mikro Hidro telah memberikan potensi yang baik bagi masa depan Indonesia. Satuan Program Pengembangan Nasional telah memperhitungkan bahwa Indonesia memiliki sekitar 500MW kapasitas mikro hidro meskipun saat ini baru 21MW terpasang. Selain itu, mayoritas kapasitas Mikro Hidro di Indonesia dapat ditemukan pada masyarakat kecil dan pedesaan, dimana akses untuk listrik masih jarang. 

Dalam proyek Mikro Hidro energi berasal dari tenaga arus sebuah sungai kecil melalui pembuatan sebuah roda air yang terpasang pada generator. Aliran alami sungai digunakan sebagai sumber listrik untuk memutar roda, yang kemudian digunakan untuk menggerakkan generator listrik.  Tidak ada air yang hilang dalam sistem. Setelah melewati rodaair kembali lagi ke sungai. Pada akhirnya, Mikro Hidro merupakan sumber energi bersih berkelanjutan yang tidak menghabiskan sumber daya alam, tidak menghasilkan emisi dan menciptakan zero waste.

Pada oktober 2010, WWF menyelesaikan konstruksi dari proyek Mikro Hidro di Desa Sungai Lung, Kalimantan Tengah. Sungai Lung terletak di wilayah terpencil di sekitar Kalimantan Tengah, tanpa pasokan listrik pemerintah. Sebelumnya, Desa ini menggunakan generator bertenaga solar untuk memasok energi, tapi karena sulitnya biaya, maka hal ini jarang digunakan.  Saat selesai, proyek Mikro Hidro di Sungai Lung menyediakan 5kW listrik, mampu memasok seluruh rumah di 10 desa.

Dengan tidak membeli solar untuk generatornya, biaya hidup telah berkurang cukup banyak bagi masyarakat. Uang ini bisa digunakan untuk kebutuhan kesehatan dan pendidikan. Juga, pasokan listrik yang bisa diandalkan untuk kebutuhan penerangan, memasak dan peralatan lain yang dapat meningkatkan standar hidup mereka.

Selain meningkatkan standar hidup masyarakat, hal ini juga memberikan manfaat besar untuk pelestarian lingkungan. Menurut Indra Wardhani, koordinator Cincin Api WWF Indonesia, "Proyek ini akan menghemat 20 ton karbondioksida per tahun."

Selanjutnya, hutan di sekitar Sungai Lung sekarang diamankan dari deforestasi oleh masyarakat setempat. Seperti yang ditunjukkan oleh Wardhani, "Mikro Hidro juga mendukung upaya konservasi hutan, pohon-pohon tidak lagi ditebang untuk kebutuhan desa."

Dari hasil kampanye Earth Hour yang sukses, WWF berjanji untuk membangun proyek Mikro Hidro kedua pada 2012. Ini akan dibuat di Desa Harowu, Kalimantan Tengah, dengan kapasitas 15kW. Salah satu manfaat besar dari proyek Mikro Hidro, selain manffat bagi lingkungan, biaya operasional yang dihabiskan sangat sedikit. Hasilnya, desa-desa terpencil di Indonesia mendapat akses yang berkelanjutan, swasembada pasokan energi.


Mikro Hidro terbukti menjadi sumber energi terbarukan, dan dua proyek WWF di Kalimantan dapat dilihat sebagai langkah menuju masa depan berkelanjutan untuk semua melalui energi terbarukan 100% pada tahun 2050.

sumber: www.wwf.or.id